Abah Rahman

Jumat, 26 Juni 2015

Tujuh Panglima Bercapil Suka Membantu Manusia

Jejak Mistis Penunggu Kawasan Pantai Biru, Langkat (Bagian-1)
sumber : metrolangkat-binjai.com

Banyaknya lokasi wisata di kawasan Langkat Hulu mulai bergeliat belakangan ini. Aliran sungai yang memang berasal dari kawasan pegunungan Tanah Karo (Suka Rakyat-red) sangat memberikan celah terbangunnya potensi alam dan dijadikan kawasan yang layak dikunjungi wisatawan.
Bahkan, objek wisata yang ada di Langkat Hulu tak hanya sekedar memberikan ketenangan dan kesejukan bagi siapa saja yang mendatanginya, melainkan banyak hal yang bisa diambil dari objek wisata alam di sana. Seperti halnya Pantai Biru yang terletak di Desa Pamah Tambunan, selain dapat menikmati objek wisata itu, tentunya kita bisa melihat kekuasaan Allah AWT dalam menciptakan alam semesta.
Dengan alam yang masih asri dan air jernih nan sejuk, membuat kita terpana. Namun, dengan keindahan alam itu, tentu kita harus menyadari bahwa ada makhluk-makhluk lain di sana. Baik yang terlihat secara kasat mata mau pun tidak. Lantas, bagaimana jejak mistis di kawasan Pantai Biru itu?
Tak banyak orang yang mengetahui, bahwa di balik tenangnya Sungai Pantai Biru yang berhulu di kawasan Pamah Simelir itu ada sosok tujuh Panglima Bercapil yuang kerap membantu manusia. Karena itu tak heran jika kawasan tersebut kerap dibanjiri pengunjung karena kesamaan panorama, aliran air yang menyimpan tuah dan konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Kisah mistis yang terus bergulir di kalangan masyarakatnya berujung pada mitos kemunculan sosok tujuh Panglima Bercapil kerap hadir di kawasan yang selalu bersiaga. Mereka membantu urusan manusia dalam menikmati kawasan menjadi daerah kekuasaannya sejak dulunya. Beberapa peristiwa yang terjadi di kawasan Pantai Biru tak luput dari bantuan lelembut yang kerap menampakkan dirinya layaknya panglima bercapil.
Membaca peluang yang sengaja diberikan Tuhan pada manusia di kawasan yang penuh jejak misteri, tentunya berdampak pada keuntungan dibalik. Penampilan khas lokasi yang masih asri dari penjamah lingkungan pertanda kuat pengelolaan lokasi yang telah disetujui para lelelmbut di sana. Itu telah dibuktikan salah seorang penglela kawasan Pantai Biru. Ya, dia mantan PNS berusia 64 tahun, hidup di tepian Pantai Biru. Ia mengelolanya dengan rendah hati serta penuh keikhlasan. Bahkan, ia telah menemukan semua lelelmbut yang berada di lokasi sejak mengawali pekerjaannya serta berharap berkah dari usaha yang dilakoninya itu.
Bolang Rakut (64), bermarga Sitepu adalah pengelola Pantai Biru tersebut. Ia telah berulang kali menemukan kisah mistis di balik ketenangan aliran Pantai Biru.  "Biasanya lelembut yang mendiami lokasi selalu minta tumbal kemunculannya. Namun para Panglima Bercapil sebanyak tujuh orang itu sangat berbeda sekali," ujar Rakut mengawalai kisah kejadian beberapa tahun belakangan di lokasi.
"Tak banyak cara atau persentabin yang dilakukan sebelum membedah lokasi ini menjadi kawasan wisata. Cara santun menurut pandangan agama, serta sedikit dicampur budaya etnis yang digabungkan berujung pada sambutan hangat sang lelembut yang mendiami kawasan ini sejak masih kecil dulu," beber Bolang yang pintar menggunakan peninggalan leluhur dalam membantu sesama perihal tambar kuta (obat-obatan tradisional-red).
Dikisahkannya,  kala itu hujan deras kerap mengguyur kawasan Pantai Biru, banjir pun tak dapat ditolak. Bahkan, beberapa pengguna aliran sungai yang asik mencuci mobil atau truknya di kawasan Pantai Biru sempat mengalami musibah. Di mana mobil mereka terseret aliran bah yang menghantam kawasan.
Akan tetapi, truk yang diseret air menuju hilir beberapa meter itu tiba-tiba terhenti di sebuah pinggiran tepian yang sepertinya disengaja. "Perasaan bingung melihat kejadian sesungguhnya, mana mungkin truk yang diseret air bisa digiring kearah tepian dan sangkut bagaikan ditarik," kata Rakut.
"Beberapa menit berlalu, truk yang terseret arus masih berada di tengah banjir. Pasca kejadian itu, sosok lelembut layaknya Panglima Bercapil muncul di tengah aliran banjir dengan gagahnya. Peristsiwa itu mengingatkan kita sosok lelembut sebanyak tujuh orang ternyata baru saja membantu menghentikan seretan truk dari arus air yang deras. Di situlah rasanya kami takjub dan mengerti keberadaan sosok lelembut Panglima Bercapil. Berselang lima menit langsung menghilang," papar Rakut lagi.
Keesokannya, Bolang Rakut yang bermodalkan kelikhlasan dalam membantu sesame, ia menggali potensi yang ada di depan mata untuk dijadikan sumber kehidupannya. Karena masa aktif sebagai guru sudah mendekati pensiun. "Beberapa minggu berselang, ketujuh Panglima Bercapil terus mendatangi Saya, mereka seakan memberikan pertanda dan pesan selanjutnya terkait kemunculannya dalam peristiwa membantu menahan lajunya truk yang terseret air bah sebelumnya," sebut Rakut yang mengalami peristiwa itu sesaat ini istirahat malam.
"Mereka bertujuh menyebutkan kata-kata singkat namun padat dalam pesannya. Mereka meriwayatkan asal muasal kehadiran mereka di kawasan itu, bukan lagi hitungan puluhan tahun lamanya, bahkan telah ratusan tahun menduduki kawasan yang dibisikkannya akan berubah menjadi kawasan wisata," akui Bolang Rakut dengan jujur.
"Justru hal itu menambah keyakinan Saya meneruskan usaha dan sedikit perjuangan dalam mengelola kawasan yang telah mendapatkan dukungana bangsa lelembut yang telah menampakkan jati dirinya dengan tidak disengaja itu," ujarnya
"Mereka bertujuh bukan satu ras atau suku, berlainan etnis namun tetap bersahaja dan bersahabat dalam meneruskan kehidupan barunya d idunia lain itu. Harunya mendapati peristiwa semacam itu adalah, kita tak meminta tolong namun mereka tetap memberikan pertolongan disaat kita   butuh. Anehnya lagi, ketujuh Panglima Bercapil yang menampakkan dirinya itu berperawakan hampir sama, hanya dibedakan pada penampilan rambutnya yang berbeda-beda, hanya itu yang dapat terlihat jelas dalam penampilannya menuju tebing terjal dan hilang bersama kegelapan petang," papar paranormal yang kerap membantu berbagai macam penyakit manusia ini.
Ditanya soal skill serta keahliannya dalam membantu sesama selama ini, Bolang Rakut mengaku hal itu masih dilakoninya. "Alhamdulillah, hal itu masih terus dilakukan meski dengan cara tradisional," sebutnya.
"Kalau penyakit yang bisa Saya obati itu seperti kencing manis, lemah syahwat juga penyakit lainnya yang menimpa manusia. Insya Allah kita bantu untuk penyembuhannya yang menggunakan lokasi pengobatan di gubuk atau sapo di pinggiran Pantai Biru, biar mendapat berjah serta dapat menghargai lelembut yang berada di kawasan Pantai Biru," (bersambung)

Jumat, 03 April 2015

Keangkeran Studio Alam TVRI, Cekikikan Kuntilanak hingga Penumpang Ojek Jadi-jadian

 Tak hanya itu, studio yang berdiri di lahan seluas 29 hektare tersebut, juga kerap menggoda masyarakat, salah satunya yakni tukang ojek di depan Jalan Raden Saleh.

Koordinator Studio Alam TVRI, Sumadi mengatakan, sejumlah tukang ojek sering mendapatkan penumpang perempuan 'jadi - jadian' atau makhluk halus.

Sekira pukul 19.00 hingga 21.00 WIB, tukang ojek yang menunggu penumpang turun dari angkot, sering mendapatkan penumpang perempuan yang meminta diantar ke Studio Alam TVRI.

"Penumpang perempuan, saat sampai gerbang dilihat ke belakang enggak ada penumpangnya, langsung pada kaget, pernah beberapa kali, di pos masuk itu juga ada 'penghuninya'. Kata tukang ojek penumpang perempuan tersebut minta dianterin mau syuting, padahal di sini enggak ada jadwal syuting," katanya di lokasi, Jumat (13/03/2014).

Sementara itu, peristiwa kesurupan juga masih kerap terjadi sejak tahun 2000 hingga beberapa tahun belakangan. Intinya pengunjung atau kru film diminta jangan banyak melamun.

"Kalau kesurupan sebelumnya suka bengong. Enggak pernah ada ritual khusus sebelum syuting sih, asal jangan menyombongkan dirinya saja," jelasnya.

Sumadi bercerita dulu akses ke Studio Alam harus melalui jalan belakang di daerah BBM Cilodong, sementara jalan masuk dari Raden Saleh masih seperti hutan. Namun, ia pribadi belum pernah melihat sendiri penampakan makhluk halus di sana, hanya mendengar cerita dan melihat pengunjung yang kesurupan.

"Saya enggak pernah ngalamin, cuma di sini kan ada Situ Studio Alam, dan itu alami, dulu tahun 1980-1990 masih ada jejeran kepala kerbau di situ tersebut yang diletakkan warga, kalau orang sini bilang 'bersih desa', setiap tahun dilakukan," tuturnya.

Tak dipungkiri, Sumadi mengungkapkan saking rimbunnya Studio Alam, membuat lokasi tersebut kerap dipakai pasangan kekasih untuk berpacaran. Hal itulah yang terkadang tak disukai penghuni gaib.

"Perempuan lebih banyak yang kesurupan di sini, misalnya kebanyakan bengong. Lalu pernah mendengar kebanyakan suara-suara cekikikan seperti kuntilanak, perempuan pada malam hari," tutupnya.(Net)

Kisah horor di Studio Alam TVRI, di Kampung Cikumpa, Kecamatan Sukmajaya, Depok, banyak dialami sejumlah pengunjung dan kru film atau rumah produksi.

Kisah Mistik di Kantor Jokowi

Banyak kesaksian mengenai kejadian mistis yang terjadi di sekitar kantor Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi). Beberapa kisah menyeramkan pun diceritakan orang-orang yang sudah bekerja cukup lama di Balai Kota, Jakarta. Seperti yang dialami petugas keamanan Balai Kota, Rohman.

Rohman mengaku sudah 15 tahun mengabdi di Kantor Jokowi itu. Rohman menceritakan setiap malam saat gilirannya berjaga, seringkali ada makhluk berbentuk seperti monyet yang berkeliaran di dalam Balai Irung.

Balai Irung merupakan salah satu ruangan di Balai Kota, Jakarta, yang ornamen ruangannya masih berbentuk seperti bangunan kolonial Belanda.

Di dalam ruangan tersebut terhampar sebuah karpet yang luas memanjang diterangi dengan lampu berbentuk kristal di atasnya berwarna putih kekuningan. Di dalam ruang ini juga terdapat sebuah tangga berwarna putih dengan desain kolonial yang menyambung ke ruangan bernama Balai Agung.

Balai Irung dan Balai Agung merupakan tempat yang sering kali dijadikan tempat acara-acara para pejabat DKI maupun pejabat pemerintah yang datang berkunjung ke Balai Kota, Jakarta.

"Makhluk seperti monyet itu sering duduk atau seperti nongkrong di tangga itu. Duduk diam ngeliatin saya kalau saya lagi ngecek-ngecek pukul 23.00 malam," kata Rohman kepada Okezone, Jumat (7/3/2014).

Rohman juga menceritakan, di dalam ruang kerja Jokowi juga terdapat benda-benda pusaka yang menambah kekentalan suasana mistis di dalam Balai Irung.

"Dulu ruangan Pak Jokowi kan kosong waktu zaman Pak Foke. Tiap pejabat juga kalau ngasih kenang-kenangan pasti bawa (makhluk gaib). Pas gubernurnya ganti kan, benda itu masih diruangan. Jadi makin banyak (makhluk gaib)," ujar Rohman.

Rohman juga mengungkapkan, pernah dipelototi oleh salah satu makhkuk gaib yang tengah berdiri di tangga Balai Irung. Sosok tersebut perempuan dan mengenakan pakaian seperti nona Belanda.

"Dia berdiri aja di atas tangga. Dia cantik. ngeliatin saya. Ya sudah saya sih enggak mau ganggu," tuturnya.

Dia juga menceritakan, sosok makhluk tersebut seringkali menyerupai teman-temannya sehingga seringkali dia diajak ke suatu tempat di dalam Balai Kota yang tidak masuk akal.

"Saya pernah ngeliat di atas lantai dua, depan ruang wagub. Saya kan mau ke kamar mandi, saya mau nitip radio ke teman saya yang lagi jaga. Eh pas saya lihat dia lagi ngintipin ruang Bappeda terus pas saya panggil, dia lari masuk ke ruang penghubung yang masuk ke gedung blok F. Saya kejar dia sambil manggil, eh tiba-tiba dia hilang terus sepi. Langsung di situ saya baru sadar kalau dia bukan teman saya," ungkapnya.

Selain dirasakan oleh petugas keamanan Balai Kota, petugas penjaga parkir motor, Tuki (59) pun merasakan hal yang disama. Namun pengalamannya ini dirasakan saat berada di bawah bangunan kantor Jokowi. Kala itu dia sedang menjaga motor-motor yang diinapkan di sana.

"Wah sering (melihat makhluk gaib). Saya kalau menginap di sini, di ruangan yang itu suka ada yang mengetuk ruangan," katanya sambil menunjuk pada ruangan yamg dimaksud.

Tuki menceritakan, saat pembangunan ruang basement yang merupakan tempat parkir motor PNS dan anggota DPRD itu pernah terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang kuli bangunan.

"Waktu tahun 2010, ada yang lagi kerja bangun ini (parkiran motor) mati karena jatuh," tuturnya.

Arwah sang kuli yang telah tewas pada pada tahun 2010 itu dikabarkan sering bergentayangan di parkiran motor. "Dia sering ada dipojokan sana. Ngeliatin. Dia pakai baju kuli gitu. Tapi dia kadang suka ngedekitin terus manggil, ki...ki," ujarnya.

Ruang basement motor yang berada di bawah gedung Balai Kota memang sedikit gelap. Sangat sedikit penerangan di basement itu. 
Bahkan, saat Okezone menaiki tangga dari basement usai mewawancarai Tuki, tiba-tiba ada orang yang mengenakan pakaian seperti pegawai PNS muncul dari pintu lantai dua basement yang merupakan parkiran mobil. Dia tiba-tiba berbicara sesuatu hal yang aneh. Padahal, saat itu tak ada pertanyaan yang Okezone lontarkan padanya.

"Di sini (tangga) sering ada yang diam, mojok, duduk. Hati-hati kalau mau ke basement. Jangan sampai ganggu," ujarnya secara tiba-tiba.

Setelah itu, orang tersebut berjalan cepat mendahului dan menghilang dibalik tembok.
(okz)   

Kepercayaan SBY pada Klenik Diungkap di Harian The Washington Post

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) disebut harian The Washington Post sebagai Presiden Indonesia yang percaya terhadap klenik alias sihir.

Tulisan ini diturunkan The Washington Post dengan judul 'Indonesia President Says He Believes in Witchcraft, yang terpampang dalam kolom 'religion'. Artikel ini ditulis Vishal Arora yang mengambil sumber dari buku tulisan SBY 'Selalu Ada Pilihan'.

Prolog artike yang ditulis Arora bahkan langsung menyebut, Susilo Bambang Yudhoyono mungkin menjadi presiden Indonesia pertama yang mengakui secara terbuka ia percaya pada sihir. Dalam buku yang ditulisnya baru-baru ini diterbitkan, SBY menggambarkan pertemuannya dengan ilmu hitam yang mirip dengan film horor, di kediamannya.

Tulisan Arora lalu mengutip lagi buku SBY yang berbunyi, "Tiba-tiba, istri saya berteriak,"  tulis SBY.  "Ada sesuatu yang tebal gelap melayang awan di bawah langit-langit, mencoba masuk ke kamar tidurku. Saya kemudian berdoa untuk meminta pertolongan Allah. Saya menutup pintu kamar saya dan membiarkan pintu di ruangan lain terbuka lebar. Awan bergulir akhirnya keluar dari rumah saya." (net)

Sabtu, 24 Januari 2015

Kisah Dusun Kasuran & cerita Sunan Kalijaga disantet lewat kasur

Kisah Dusun Kasuran dan mitosnya berawal dari kisah perjalanan Sunan Kalijaga saat melakukan syiar Islam di Yogyakarta. Saat itu, Sunan Kalijaga tengah dalam perjalanan melalui hutan-hutan di daerah Dusun Njaron. Karena hari sudah malam, Sunan Kalijaga kemudian menginap di rumah Djanu salah seorang warga di Dusun Njaron.

"Ceritanya dulu Sunan Kalijaga pernah singgah di sini untuk melakukan syiar Islam. Beliau kemudian tidur di rumahnya Djanu dan beristirahat di atas kasur kapuk, peristiwa itu terjadi 600 tahun lalu," cerita Warsilah Kepala Dukuh Kasuran, di rumahnya, Senin (12/1).

Saat itu, di dusun Njaron ada seorang petapa sakti bernama Sonco Ndalu. Dia tidak senang dengan kehadiran Sunan Kalijaga. Sonco kemudian menyantet Sunan Kalijaga lewat kasur yang digunakan Sunan Kalijaga. Saat bangun pagi, Sunan Kalijaga pun sakit, badannya demam tinggi dan gemetaran. "Kanjeng Sunan sadar kalau disantet, tapi dia tidak membalas," ujarnya.

Setelah itu Sunan Kalijaga memerintahkan warga untuk mengubur kasur yang digunakan untuk menyantetnya. Dia memaafkan Sonco Ndalu dan tidak membalas perbuatan Sonco Ndalu. Sejak saat itulah berkembang cerita-cerita miring soal kasur, sehingga warga tidak berani tidur di atas kasur.

"Dulu ceritanya, Djanu cerita ke warga, kalau Kanjeng Sunan berkata jangan berani tidur di kasur kalau ilmunya setara denganku. Tapi itu cerita yang salah," jelas ibu dukuh yang sudah menjabat selama 24 tahun.

Menurut dia Sunan Kalijaga tidak pernah mengatakan hal tersebut pada Djanu. Warsilah mendapatkan cerita versi yang benar dari salah seorang yang mengaku diutus oleh Sunan Kalijaga untuk menemuinya pada pertengahan tahun 2012 lalu.

"Jangan dipikirkan siapa utusan Kanjeng Sunan itu, yang jelas beliau didatangi Kanjeng Sunan berkali-kali lewat mimpi. Beliau kemudian disuruh Kanjeng Sunan untuk menemui saya dan menceritakan cerita sebenarnya. Yang benar kanjeng sunan tidak pernah berkata seperti itu, tapi cerita soal kasur yang digunakan untuk menyantet Kajeng Sunan itu benar," ungkapnya.

Kuburan kasur tersebut sampai sekarang pun masih ada. Lokasinya kini dijadikan pemakaman dusun. Kisah tersebut pula yang membuat sejumlah stasiun TV dengan program berbau mistis berkali-kali mendatangi kuburan kasur tersebut.

"Dulu itu Tukul jalan-jalan pernah membuat uji nyali di kuburan kasur," tambahnya.

Sementara itu nama Kasuran sendiri berasal dari kata bahasa jawa "Kasoran" yang berarti kekalahan. Nama Njaron diganti dengan kata Kasuran setelah ketika pada perang Geriliya, Pangeran Diponegoro kalah dan bersembunyi di Njaron.

"Jadi tidak ada kaitan nama Kasur dengan Kasuran, beda ceritanya. Di sini dulu tempat Pangeran Diponegoro sembunyi, ada gua dan sendang yang dulu digunakan beliau," tuturnya. (merdeka.com)

Makam Keramat Di Tengah Kota Medan

Zaman semakin modern, tapi tak sedikit orang percaya pada hal mistis untuk mendapatkan keinginan, termasuk kekayaan. Di Medan memang tidak ada cerita soal budaya pesugihan, namun sejumlah makam tua sering dijadikan tempat berharap.

Makam yang dijadikan keramat bagi sebagian orang itu di antaranya Makam Datuk Darah Putih di Jalan Palang Merah. Juga ada makam tua di Mabar dan Makam Panglima Denai di kawasan Jalan Jermal.

Yang terlihat paling banyak didatangi saat ini adalah Makam Datuk Darah Putih. Situs ini ada di tengah Kota Medan, tepatnya di belakang Kantor Imigrasi Polonia Medan.

Pengunjung ramai datang ke Makam Datuk Kerah Putih setiap Kamis malam dan Jumat pagi. Mereka memberi sesajen, biasanya berupa bunga dan buah, serta membakar dupa di sana.

"Saya tidak tahu keinginan orang-orang yang datang, karena kita tidak dikasih tahu. Tapi biasanya mereka yang datang ke sini punya keinginan, bisa saja untuk melancarkan usaha," ucap Usman (57), penjaga makam, saat ditemui merdeka.com, Minggu (15/12).

Hampir semua pengunjung makam ini berasal dari etnis Tionghoa. "Tapi ada juga yang bukan Tionghoa, segala etnislah," sambung Usman.

Ramainya pengunjung makam ini pun ditandai dengan adanya penjual bunga, dupa, kemenyan dan buah-buahan di sana. Pengemis pun bermunculan di kawasan itu setiap malam Jumat. Mereka mengintip kemurahan orang-orang yang punya keinginan.

Makam Datuk Kerah Putih ini berada di depan pekarangan dua rumah kecil, salah satunya didiami Usman. Rumah dan makam itu dipagari dan memiliki gerbang besi.

Ada dua makam di kompleks itu. Kedua makam memiliki nisan dari batu. Konon, selain makam Datuk Darah Putih, satu lagi merupakan makam istrinya."Yang lebih rendah nisannya melebar itu makam istrinya," jelas Usman.

Tak ada yang tahu sejak kapan makam itu di sana. Sebab, tak ada nama atau tarikh yang tertera di batu nisan. Yang ada hanya ukiran.

"Saya di sini meneruskan ayah saya. Sebelum ayah saya pun makam ini sudah ada, jadi saya tidak tahu usia makam ini, tapi sepertinya sudah ratusan tahun," beber Usman.

Selain tak ada tanggal dan nama, kisah tentang orang yang dimakamkan di tempat itu juga tak banyak diketahui. Begitu pun, sebagian orang tak peduli sejarah, namun merasa perlu pada daya mistis yang diyakininya ada di sana. (Yan Muhardiansyah/ Merdeka.com)

Rabu, 16 Juli 2014

Tempat Ritual Paranormal Abah Rahman

Sebagai seorang paranormal, Abah Rahman punya tempat khusus untuk melakukan ritual. Seperti apa ? Berikut photo-photonya :

Contak Person Abah Rahman : 0813 7630 6023 PIN BB : 214841E6